Sahabat Mabrur Community

Senin, 01 November 2010

Giring ”Nidji” Merinding Ketika Berhadapan dengan Ka”bah

Giring (Nidji)
Giring (Nidji)
Giring, vokalis grup band Nidji mengaku merinding sekujur tubuhnya, dari ubun-ubun hingga telapak kaki, ketika pertama kali melihat Ka”bah di Tanah Suci Makkah. Bahkan, pria kelahiran Jakarta, 14 Juli 1983, ini mengaku sempat menitikkan air mata. ””Saat itu saya merasa begitu kecil dan merasa tidak ada apa-apanya di mata Allah,”” akunya.
Lelaki yang menunaikan ibadah haji pada 2008 lalu itu menyatakan sangat beruntung bisa melihat dari dekat keindahan Ka”bah. Nidji mengaku sempat khawatir tidak bisa berhadap-hadapan langsung dengan monumen suci umat Islam tersebut.
””Saya sempat takut dan kawatir tidak akan dapat melihat keindahan bangunan suci itu dari dekat, padahal Ka”bah merupakan bangunan yang wajib dikunjungi atau diziarahi pada saat musim haji dan umrah.””
Ada satu pengalaman yang tak pernah bisa terlupakan sepanjang hayat haji muda ini. Ketika berada di Makkah, dia merasa mendapatkan energi yang amat besar. Pasalnya setiap jam bahkan setiap menit, ia menyaksikan ada saja jamaah haji yang salat. ””Jadi, merasa dekat banget sama Allah SWT,”” ujarnya.
Ketika menyaksikan jutaan jamaah haji menyemut berjalan menuju satu arah, Giring mengaku hatinya begitu tersentuh. Jutaan manusia tersebut, kata Giring, melakukan semuanya semata-semata hanya untuk Allah,”” Meski berada di antara jutaan manusia, alhamdulillah, semuanya berjalan lancar,”” ujarnya.
Walaupun tidak sempat mencium Hajar Aswad, pria bernama lengkap Giring Ganesha, tidak begitu menyesal. Sebab, menurutnya, mencium Hajar Aswad bukan hal yang wajib. Ketika berada di Tanah Suci, Giring mengaku lebih fokus kepada ibadahnya, ””Tapi, kalau pegang Ka”bah pernah,”” katanya.
Pengalaman lain yang juga tak pernah terlupakan, ketika dia tergencet di antara jutaan manusia yang tengah melontar jumrah.””Saat itu saya harus melindungi ibu dari desakan jutaan manusia, saya tergencet, tapi berkat pertolongan Allah, alhamdulillah kami selamat,”” tambah Giring. Menurut Giring, masih banyak pengalaman menyentuh lainnya selama ia pergi ke Tanah Suci. Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga bagi dirinya.
””Pengalaman-pengalaman di Tanah Suci itulah, yang mengajarkan pada saya supaya bisa menjadi orang yang sabar dan selalu pasrah kepada Allah.””Bukan hanya itu, berkat pengalaman-pengalaman berharga itu pula membuat Giring menjadi orang yang selalu berpikiran positif. ””Ketika sampai di Indonesia saya menyadari hidup itu harus penuh dengan rasa syukur, dan setiap melakukan kegiatan semata-mata karena Allah,”” katanya. she/yto

Sumber : http://www.jurnalhaji.com

Cici Paramida, Ingin Tinggal Lama di Masjidil Haram

Cici Paramida, Foto/Darmawan
Cici Paramida, Foto/Darmawan
Kenikmatan paling indah bagi penyanyi dangdut kenamaan Cici Paramida, ternyata bukan popularitas atau kemegahan materi, namun ketika Allah mengabulkan doanya. Ia merasakan hal itu ketika meluncurkan album keempatnya beberapa tahun lalu. ”Doa saya ternyata dikabulkan Allah, album keempat saya berjudul ‘Jangan Tunggu Lama-Lama’ meledak di pasaran, dan mendatangkan rezeki bagi saya,” paparnya.
Album tadi, kata Cici, benar-benar merupakan rezeki dari Allah. Lalu ia pun menyukuri nikmat Allah tadi dengan menunaikan ibadah haji bersama kedua orang tuanya. Keinginan untuk bisa pergi ke Tanah Suci tersebut, aku Cici, sebenarnya memang sudah cukup lama. Apalagi setelah membaca buku-buku agama, sejarah nabi, serta tentang Madinah dan Makkah.
Tetapi baru tahun 1995 itulah ia benar-benar bisa mewujudkan impiannya untuk pergi ke Tanah Suci. Ketika pertama kali menunaikan ibadah haji, begitu tiba di Madinah hatinya benar-benar bahagia. Apalagi ia juga sempat mengunjungi Maqam Nabi Muhammad SAW. ”Berada di Maqam Rasulullah, hati saya merasa tenang dan damai, bahkan tak henti-hentinya saya menangis, lalu saya berdoa di sana. Ketika berada di Masjidil Haram, saya ingin berlama-lama di sana,” katanya mengenang.
Itulah perjalanan pertama wanita kelahiran Jakarta 7 September 1972 ke Tanah Suci. Setelah itu, bersamaan dengan bulan Ramadhan, walau hanya umrah, Cici kembali ke Tanah Suci. Begitu sampai menginjakkan kakinya di Tanah Suci, hatinya merasa berdebar-debar, apalagi ketika memasuki Masjidil Haram. ”Selama dalam perjalanan, saya merasa nggak sabaran ingin cepat sampai di Masjidil Haram dan ingin melihat Kabah. Pokoknya ingin cepat sampailah.
Begitu tiba di tempat itu, saya langsung melakukan thawaf qudum. Di tempat itu saya menangis lagi sejadi-jadinya. Saya kemudian berdo’a: ‘Ya Allah Engkau telah mendatangkan aku ke sini’. Perasaan saya waktu itu, ingin tinggal seterusnya, nggak ingin balik lagi, ingin berlama-lama,” kata Cici. Di Multazam,, Cici mengaku banyak mengucap doa. Sejak dari minta kesehatan dan keselamatan, diberikan umur panjang, kelangsungan hidup yang baik, terutama untuk beribadah kepada Allah, sampai ingin diberikan jodoh.
Pada kesempatan itu, ia menyerahkan semua persoalan kepada Allah. Ia pasrah, bahkan dalam salah satu ucapannya ia mengatakan ‘Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, bila pun Engkau ingin memanggilku, aku sudah pasrah’. Ketika mau berangkat ke Arafah untuk wukuf, Cici sempat terserang demam, sehingga ia ditinggal jamaah lainnya. ”Saya istirahat dulu di rumah sakit, ketika berbaring saya berdoa lalu shalat, alhamdulillah tiba-tiba kok saya seperti bangun dari sakit, sehat dan langsung berangkat ke sana,” ceritera Cici.
Cici memperkirakan, demam yang dideritanya itu akibat terlalu banyak minum es ketika berada di Masjidil Haram. Namun seusai wukuf di Arafah, kepala Cici merasa pusing lagi. Ketika itu ia melihat begitu banyak orang yang semuanya tengah berdzikir, menyebut nama Allah. Perasaan itu, katanya, seperti dalam sebuah mimpi, antara tertidur dan tidak. Bahkan ia mengaku, kejadian tersebut terasa dalam sebuah impian panjang.
Ia merasa telah tertidur lama. Ia merasa bermimpi dan dalam impiannya itu ia merasa ada sesuatu yang membisikkan suara: nanti, di alam kubur akan begini. Begitu menyadari keadaan, ia langsung mengucap istighfar berkali-kali. Peristiwa itu terjadi, pada waktu siang yang terik dan udara sangat panas.
”Bayangan itu nyata sekali. Mungkin saya terbawa suasana. Tapi sedikitpun nggak merasa takut, malah saya bilang, wah nanti akan begini kalau kita sudah mati, dibangkitkan lagi.” Waktu itu, Cici merasa bukan mimpi, melainkan merasa dirinya sudah mati, lalu dibangkitkan kembali. Ia melihat, begitulah nantinya, semua orang akan berkumpul di tempat itu bersama orang-orang yang dibangkitkan kembali dari alam kubur.
Peristiwa itu, kata Cici, bukan mimpi, karena waktu itu Ia merasa pusing, lalu terbangun. Lalu apa makna ibadah haji bagi dirinya? Penyanyi yang selalu tampil santun di atas panggung ini mengatakan, ibadah haji itu adalah panggilan Allah, untuk lebih mengenal Allah, untuk lebih dekat dengan Allah, sehingga menyadarkan kita, bahwa dalam hidup ini tidak hanya memikirkan soal duniawi saja. ”Kalau di sana, pikiran kita hanya ingin beribadah yang sekhusyuk-khusyuknya.
Bagi saya bisa menambah keimanan, dan menyadarkan agar kita tidak hanya berpikir soal dunia saja. Di sana membuat saya berpikir apa bekal yang akan dibawa ke akherat kelak,” katanya. Ke Tanah Suci pada musim haji ternyata berbeda dengan umrah di bulan Ramadhan. Berada di Masjidil Haram pada bulan suci Ramadhan, sangat terasa ada suasana kebersamaan sesama umat Islam.
Sebelum menunaikan ibadah umrah Ramadhan, Cici pernah mendengar dari cerita teman-temannya, bahwa suasananya sangat berbeda.” Mendengar cerita itu, membuat saya ingin sekali merasakan secara langsung. Ternyata benar, suasananya sangat berbeda dengan di Tanah Air. Di sana kita berbuka bersama ribuan jamaah lain, dan banyak orang membagi-bagikan makanan,” katanya.damanhuri Zuhri/dokrep/Januari 2004

Sumber : http://www.jurnalhaji.com

Ikang Fawzi Berhaji di Usia Muda

ikangfauzioleh Lilis Sri Handayani
Salah satu pesan Rasulullah SAW, agar umatnya menggunakan masa mudanya sebelum masa tua, bagi Ikang Fawzi benar-benar membawa hikmah bagi dirinya. Bahkan, pesan tersebut mampu mengubah kehidupannya sebagai seorang rocker. Di usianya yang baru 33 tahun, pria kelahiran Jakarta, 23 Oktober 1959 tersebut, pada saat popularitasnya tengah naik  ”terpaksa” menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
””Ketika itu, belum ada niatan sedikit pun untuk berhaji, tapi saya terpaksa berangkat ke Tanah Suci,”” kata Ikang.
Ketika itu, cerita musisi yang memiliki nama lengkap Ahmad Zulfikar Fawzi tersebut, dirinya tengah menikmati masa keemasan sebagai seorang rocker. Dalam usianya yang baru menginjak 33 tahun, tidak hanya popularitas yang diperolehnya, tetapi juga berbagai penghargaan serta materi yang berlimpah. Sementara itu, ketaatan menjalankan ibadah masih jauh dari kehidupannya.
Beruntunglah Ikang memiliki seorang istri seperti Marissa Haque. Perempuan yang telah memberikan dua orang putri itu terus membujuknya agar mau menunaikan ibadah haji. Marissa yang pernah menjalankan umrah sendirian ke Tanah Suci tersebut terus mendesaknya, sampai akhirnya meluluhkan hati sang rocker.
””Meski dengan setengah hati, sebagai suami saya merasa berkewajiban mendampingi istri menunaikan haji. Jadi, niat awal saya berangkat haji karena terpaksa menemani istri. Sedangkan saya sendiri secara mental masih belum siap,”” ujar pria yang pernah menjabat sebagai wakil ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) bidang Pemukiman pada era 1990-an tersebut.
Keputusan yang diambil Ikang, tampaknya memicu munculnya banyak godaan.
Ketika rencana berhaji itu diketahui teman-temannya, berbagai komentar miring pun mampir ke telinganya. Komentar-komentar itu membuat dirinya semakin ragu mengikuti ajakan istrinya.
””Ngapain naik haji saat umur masih muda? Ntar aja kalau sudah tua, sekalian tobat,”” kata Ikang menirukan ucapan teman-temannya.
Namun demikian, meski banyak suara miring diarahkan padanya, jika Allah sudah berkehendak, apa pun pastilah terjadi. Meski dengan hati penuh keraguan dan persiapan yang minim, Ikang ternyata tetap ditakdirkan untuk menjadi tamu Allah.
Di luar dugaan, Ikang yang tidak tekun mengikuti manasik haji, bahkan tak hafal kalimat talbiyah, didaulat rekan-rekan sesama rombongannya untuk memimpin membaca kalimat tersebut. ””Permintaan para jamaah itu ternyata merupakan jalan dari Allah agar saya lebih mantap dalam menunaikan haji.””
Dengan bantuan sang istri, Ikang pun akhirnya bisa melafalkan kalimat itu dengan suara lantang khas seorang rocker. Dia pun mengaku merasakan getaran di dalam dadanya, tatkala kalimat talbiyah itu berulang kali meluncur dari mulutnya.
””Saya sadar, semua harta, penghargaan, dan popularitas yang saya banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan Allah,”” tutur Ikang.
Ikang pun langsung bersujud sambil menangis ketika pertama menginjakkan kaki ke Tanah Suci. Di tempat itu, dirinya seolah menyaksikan gambaran perjalanan hidup yang selama ini dijalaninya kurang baik.
””Saya menangis sejadinya-jadinya dan memasrahkan semuanya pada Allah. Bahkan, kalau Allah mencabut nyawa saya saat itu juga, saya ikhlas,”” kata Ikang.
Ikang kemudian bertekad menggunakan semua waktunya selama di Tanah Suci untuk memperbanyak ibadah. Bahkan, dia mengaku jarang tidur. Semua amalan yang wajib dan sunah, dikerjakannya dengan tekun. Saat itulah, dirinya mengaku sangat beruntung bisa menunaikan ibadah haji ketika usia masih muda.
””Menunaikan ibadah haji di usia muda banyak sekali manfaatnya, fisik kita masih kuat, ini sangat menunjang untuk memperbanyak ibadah. Apalagi, selama menjalankan ibadah, adu fisik dengan jamaah dari negara lain yang berpostur tubuh besar tidak bisa dihindari,”” kata Ikang menambahkan.
Hikmah berhaji di usia muda tak hanya dirasakan Ikang selama berada di Tanah Suci. Setelah kembali ke Tanah Air, perubahan untuk menjadi Muslim yang lebih taat pun dijalaninya. Meski secara bertahap, berbagai kebiasaan negatif yang acapkali dilakukannya, seperti mengonsumsi minuman keras, bisa ditinggalkan.
Tak hanya itu, Ikang juga mengaku lebih bisa bersabar dalam menghadapi apa pun. Padahal, pelantun lagu Preman itu biasa menghadapi kekerasan yang dialaminya dengan kekerasan pula. Namun, berbagai peristiwa yang dialaminya selama berhaji, mampu mempertebal kesabaran dalam dirinya.
””Saya merasa menjadi ”orang lain” setelah pulang haji. Saya jadi berpikir, kalau dulu saya tidak berhaji saat masih muda, mungkin sekarang saya jadi orang yang lupa diri,”” ungkap Ikang. ed :m as”adi/yto

Sumber : http://www.jurnalhaji.com

Ki H Anom Suroto, Serba Jalan Kaki

Ki H Anom Suroto
Ki H Anom Suroto
Beragam cara dilakukan orang ketika menunaikan ibadah haji. Apa yang dilakukan setiap jamaah berbeda antara satu dan lainnya. Bahkan, boleh dibilang, sesuatu yang ganjil juga dilakukan saat berada di Tanah Suci, Makkah Al Mukarramah.
Seperti yang dilakukan Ki Anom Suroto (59). Dalang wayang kulit kondang asal Solo, Jawa Tengah, ini boleh dibilang langka. Entah mengapa, ia bersama 20 orang jamaah membuat kesepakatan bersama: selama menempuh perjalanan haji di Tanah Suci, mereka akan melakukannya dengan jalan kaki. ””Ke mana pun perjalanan selama menunaikan ibadah rukun wajib haji, kita bersama anggota 20 orang sepakat jalan kaki,”” tutur Ki Anom Suroto.
Kesepakatan bersama ini diambil ketika mereka belum berangkat ke Tanah suci. Anggota yang semua laki-laki ini tergabung dalam satu kelompok terbang (kloter) dan satu kelompok dalam pemondokan. Sekadar pengetahuan saja, di antara jutaan jamaah selama di Tanah Suci jarang yang jalan kaki setiap kali menempuh perjalanan.
Kebanyakan di antara mereka naik alat transportasi, seperti bus. Kalau tidak sabar, mereka naik taksi meski ongkos lebih mahal dan risiko negatif kemungkinan terjadi. Orang tidak mau bersusah payah ke mana pun pergi, mesti naik fasilitas alat transportasi yang disediakan di sana.
Beda dengan apa yang dilakukan Ki Anom Suroto dkk. Begitu tiba di Jeddah dan menunaikan shalat Arbain, mereka terus melanjutkan perjalanan ke Makkah. Prosesi dari Makkah ke Arafah dimulai dengan berjalan kaki. Sebanyak 20 orang tersebut tak peduli dengan jutaan jamaah lain yang antre menunggu bus antar-jemput. Mereka tak memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia walau dalam keadaan kosong.
””Kita melakukan perjalanan pada malam hari. Hawanya sejuk dan segar. Nyamanlah. Bangun tidur, terus mandi, dan melakukan persiapan perjalanan panjang. Enak rasanya menikmati embun malam hari untuk berjalan kaki,”” katanya. Mereka tiba di Arafah sebelum setelah melakukan perjalanan dari Makkah.
Perjalanan wukuf dari Makkah ke Arafah, menurut Ki Anom Suroto, menguras tenaga. Tapi, karena tiba di lokasi sebelum Subuh, semuanya tak terasa. Modalnya, hati tetap senang dan semua dilakukan dengan rasa ikhlas sepenuh hati.
Perjalanan dari Makkah ke Arafah dilakukan bukan asal-asalan. Rombongan sebanyak 20 orang ini sebelumnya sudah melakukan tes percobaan. Ternyata, perjalanan malam lebih enak, cepat, dan nyaman. Berangkat malam dan tiba di Arafah sebelum subuh. Berarti, wukuf pada hari H bisa dilakukan dengan cara serupa. Akhirnya, itu membuat ketagihan setiap ibadah hingga kemudian dilakukan dengan jalan kaki.
Berbeda dengan jamaah yang menempuh perjalanan dengan memanfaatkan fasilitas transportasi bus, mereka datang di Arafah sekitar pukul 10 pagi. Keterlambatan ini lantaran terjebak kondisi jalan yang macet. Ini karena saking banyaknya kendaraan umum pengangkut jamaah haji.
Tidak heran kalau cuaca mulai panas ketika mereka tiba. Tidak aneh kalau ada banyak kendaraan pick up yang mengangkut es balok.
Demikian juga ketika menempuh perjalanan dari Arafah ke Mina, mereka menempuhnya dengan jalan kaki. Perjalanan mengambil kerikil–untuk lempar jumrah–ke Muzdalifah juga jalan kaki. Kemudian, perjalanan dari Mina ke Makkah juga kembali dilakukan dengan jalan kaki.
Menurut pengakuan Ki Anom Suroto, perjalanan haji tahun 1980 dilakukan serbalancar. Terasa lebih cepat jalan kaki ketimbang naik kendaraan bus–yang terus terjebak macet. Kondisi persiapan fisik dan mental yang prima mendukung kelancaran ibadah haji. Ternyata, proses perjalanan kaki kala itu penuh makna bahwa manusia wajib melakukan penghambaan kepada Allah. Ketika wukuf, jutaan umat manusia dari seluruh penjuru dunia, beda suku dan warna kulit, menyatu dan melakukan penghambaan kepada Sang Khalik. Di sinilah, tempat manunggalnya umat manusia mengagungkan asma Allah.
Ki Anom Suroto menunaikan ibadah haji atas dorongan ibunya, Ny Sawitri, dan neneknya, Kertotiyoso. Ia merasakan dampak positif usai menjalankan ibadah rukun Islam kelima. Sikap kepasrahan, kesabaran, rasa gelisah, bingung, dan serba tergesa-gesa secara pelan terkikis sirna. Kehidupan kian mantap.
””Dulu, kalau lagi sepi tanggapan (job), saya gelisah. Tapi, sekarang berbeda. Sikap semeleh (pasrah) terjadi. Lagi tidak mempunyai uang pun, juga tidak kemrungsung (tergesa-gesa).” Dan, alhamdulillah, usai menunaikan ibadah haji, dunia keseniannya kian laris manis. Setiap bulan tidak pernah sepi dari job. Yang jelas, setiap ada adegan goro-goro (lawakan) dimanfaatkan untuk media dakwah.
Menurutnya, kini menjalankan profesi sebagai seniman dalang wayang kulit kian mantap. Ia mendakwahkan ajaran Islam, budi pekerti pergaulan, dan tata krama lewat media wayang kulit. Sebenarnya, seni tersebut tergantung pada dalangnya, bisa dimanfaatkan sebagai media pendidikan, penyebar informasi, dan dakwah. ed: maghfiroh/yto

Sumber : http://www.jurnalhaji.com